STIT Darul Hijrah Gelar Kuliah Tamu Pendidikan Inklusi di Martapura
Selasa, 30 Juni 2026 Martapura – STIT Darul Hijrah kembali mengadakan kegiatan akademik berupa kuliah tamu. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa dan dosen. Selain itu, kegiatan ini juga memperluas wawasan tentang pendidikan inklusi.
Tema yang diangkat adalah “Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus dalam Pendidikan Inklusi”. Kegiatan ini menghadirkan narasumber Arif Rahman Heriansyah, S.Pd.I., M.A., Gr.
Konsep Pendidikan Inklusi
Dalam pemaparannya, narasumber menjelaskan konsep pendidikan inklusi. Pendidikan inklusi adalah sistem yang memberi kesempatan kepada anak berkebutuhan khusus (ABK) untuk belajar di kelas reguler. Dengan demikian, tidak ada diskriminasi dalam proses pembelajaran.
Selain itu, pendidikan inklusi tidak hanya menerima keberagaman siswa. Akan tetapi, setiap anak juga harus mendapatkan layanan sesuai kebutuhannya.
Jenis Anak Berkebutuhan Khusus
Selanjutnya, peserta kuliah tamu diperkenalkan dengan berbagai jenis ABK. Misalnya disleksia, disgrafia, diskalkulia, autisme, ADHD, dan tunagrahita. Selain itu, terdapat juga tunarungu, tunadaksa, Down syndrome, tunanetra, dan slow learner.
Di sisi lain, narasumber juga menjelaskan faktor penyebab ABK. Faktor tersebut dapat terjadi pada masa prenatal, saat persalinan, maupun setelah kelahiran.
Strategi Pembelajaran ABK
Kemudian, narasumber menjelaskan strategi pembelajaran untuk ABK. Guru perlu menggunakan pendekatan yang persuasif. Selain itu, guru juga harus mengulang materi sesuai kebutuhan siswa.
Selanjutnya, guru dianjurkan memberikan apresiasi atas setiap perkembangan anak. Hal ini penting untuk membangun motivasi belajar.
Di samping itu, guru juga perlu membangun kedekatan emosional dengan siswa. Tidak hanya itu, media pembelajaran seperti kartu edukatif, balok, dan permainan juga dapat digunakan.
Selain itu, guru perlu mencatat perkembangan siswa secara berkala. Dengan demikian, evaluasi pembelajaran dapat dilakukan secara lebih tepat.
Pengenalan BISINDO
Selain materi utama, peserta juga diperkenalkan dengan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO). Tujuannya adalah untuk meningkatkan kemampuan komunikasi dengan peserta didik tunarungu.
Oleh karena itu, calon pendidik diharapkan lebih peka terhadap keberagaman siswa.
Sebagai kesimpulan, kegiatan ini memberikan wawasan penting bagi mahasiswa. Khususnya dalam memahami pendidikan inklusi di sekolah.
Dengan demikian, diharapkan calon pendidik lebih siap menghadapi keberagaman siswa. Pada akhirnya, pendidikan inklusi menjadi tanggung jawab bersama untuk menciptakan pembelajaran yang adil dan berkualitas.




