Pertemukan tujuh perguruan tinggi dalam ruang kolaborasi, silaturahmi, dan pertukaran gagasan
Martapura, Jumat (25/9/2026). Bahasa Arab tidak hanya hidup di ruang kelas. Sebaliknya, bahasa ini juga menjadi jembatan yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai daerah di Kalimantan.
Semangat itu terlihat dalam Kemah Bahasa Arab 2026. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Ittihadu Thalabati al-Lughah al-‘Arabiyah bi Indonesia (ITHLA) DPW VI Kalimantan bersama Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab STIT Darul Hijrah Martapura.
Sebanyak 125 mahasiswa mengikuti kegiatan tersebut. Mereka berasal dari tujuh perguruan tinggi di Kalimantan. Selain berkompetisi, peserta juga mempererat silaturahmi, bertukar pengalaman, dan membangun jejaring akademik.
Pembukaan berlangsung di Aula Pondok Darul Hijrah Cindai Alus, Martapura, Kabupaten Banjar. Pimpinan Pondok Pesantren Darul Hijrah, Drs. KH. Muhammad Nasrul Mahmudi, membuka kegiatan secara resmi pada Jumat (25/9/2026).
Pertemuan Tujuh Kampus dalam Satu Semangat
Ketua Umum ITHLA DPW VI Kalimantan, Muhammad Ridhani Fitri, mengatakan Kemah Bahasa Arab menjadi momentum penting bagi mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab di Kalimantan.
“Alhamdulillah kegiatan Kemah Bahasa Arab ini dihadiri mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab se-Kalimantan dari tujuh instansi,” katanya.
Tujuh perguruan tinggi yang berpartisipasi meliputi:
-
UIN Antasari Banjarmasin
-
IAI Darul Ulum Kandangan
-
STIQ Rakha Amuntai
-
UINSI Samarinda
-
IAIN Pontianak
-
UIN Palangkaraya
Menurut Ridhani, kegiatan inti berlangsung selama dua hari. Sementara itu, seluruh rangkaian kegiatan berlangsung selama empat hari. Rangkaian tersebut dimulai dari kedatangan peserta hingga penutupan pada Ahad.
Selain itu, ia menjelaskan bahwa Kemah Bahasa Arab merupakan agenda ketiga ITHLA DPW VI Kalimantan. Sebelumnya, organisasi telah menggelar rapat kerja wilayah dan silaturahmi wilayah.
“Kemah Bahasa Arab menjadi salah satu agenda penting yang mempertemukan seluruh instansi di Kalimantan,” ujarnya.
Sebelas Cabang Lomba Perkuat Kompetensi
Ketua Panitia, Muhammad Sulaiman Badali, menjelaskan bahwa Kemah Bahasa Arab merupakan agenda tahunan ITHLA. Tahun ini, panitia menyiapkan sekitar 11 cabang lomba.
“Untuk tahun ini kami menyediakan sekitar 11 cabang lomba. Ada yang akademik dan ada juga nonakademik,” ujarnya.
Perlombaan akademik dipusatkan di lingkungan Pondok Darul Hijrah. Materinya menguji berbagai keterampilan berbahasa Arab.
Cabang perlombaan tersebut meliputi:
-
Gina’ Araby
-
Khitobah Arabiyah
-
Insya
-
Imla
-
Pembuatan teks berbahasa Arab
Sementara itu, perlombaan nonakademik berlangsung di kawasan Alam Roh, Desa Kiram, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar.
Di lokasi tersebut, peserta mengikuti tarik tambang, tebak kosakata, dan berbagai permainan edukatif lainnya. Selain itu, mereka juga mengikuti kegiatan kemah pada malam Sabtu dan malam Minggu yang dirangkai dengan penutupan.
“Kalau untuk yang nonakademik insyaallah dilaksanakan di Alam Roh. Ada tarik tambang, tebak kosakata bahasa Arab, dan beberapa kegiatan lainnya,” jelas Sulaiman.
Agenda Besar Mahasiswa Bahasa Arab Indonesia
Wakil Ketua I DPP ITHLA Indonesia, Said Taufiqurahman Bahsim, menjelaskan bahwa ITHLA memiliki enam wilayah kepengurusan di Indonesia.
DPW VI membawahi seluruh wilayah Kalimantan. Wilayah ini mencakup Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Barat.
“DPW VI ini mencakup seluruh Kalimantan, baik Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur maupun Kalimantan Barat,” jelasnya.
Menurut Said, kegiatan ini merupakan agenda wajib setiap wilayah. Bahkan, kegiatan tersebut menjadi salah satu program terbesar dalam kepengurusan ITHLA.
“Ini bisa disebut sebagai puncak daripada kepengurusan. Di samping banyaknya agenda ITHLA, Kemah Bahasa Arab ini menjadi salah satu kegiatan yang paling besar,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan bahwa beberapa wilayah memiliki penamaan berbeda. Misalnya, di Sumatera kegiatan serupa dikenal sebagai Silaturahmi Mahasiswa Bahasa Arab.
Kolaborasi Lebih Penting daripada Sekadar Juara
Menurut Said, tujuan utama Kemah Bahasa Arab bukan hanya menentukan pemenang lomba. Sebaliknya, kegiatan ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk saling mengenal dan bertukar pengalaman.
“Tujuan utamanya memang untuk mewadahi bagaimana mahasiswa bahasa Arab bisa berkembang, bisa tukar pikiran antarinstitusi, dan bisa bersilaturahmi,” katanya.
Selain perlombaan, peserta juga mengikuti seminar akademik. Seminar tersebut menghadirkan narasumber dari Al-Azhar Mesir. Karena itu, peserta memperoleh wawasan langsung dari lingkungan akademik yang memiliki reputasi internasional.
Menyatukan Langkah untuk Masa Depan Pendidikan
Selama tiga hari pelaksanaan, Kegiatan ini menghadirkan pengalaman belajar yang berbeda. Peserta mengikuti seminar, kompetisi, permainan edukatif, dan kegiatan kemah dalam satu rangkaian.
Pada akhirnya, Kemah Bahasa Arab 2026 menunjukkan bahwa bahasa Arab mampu menjadi ruang yang menyatukan mahasiswa dari berbagai provinsi di Kalimantan. Dari aula hingga alam terbuka, setiap pertemuan melahirkan pengalaman baru. Selain itu, kegiatan ini memperkuat kolaborasi antarkampus dan menumbuhkan harapan bagi kemajuan pendidikan di Indonesia.



