Dari Ruang Gagasan Menuju Jalan Pengabdian: Menyemai Semangat Kebangsaan dan Agensi Intelektual Muslim
Martapura, Sabtu, 29 Agustus 2026. STIT Darul Hijrah Martapura menutup rangkaian Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2026 melalui Seminar Kebangsaan. Kegiatan ini menjadi penanda berakhirnya masa orientasi sekaligus awal perjalanan akademik mahasiswa baru. Dua narasumber hadir untuk membekali peserta dengan wawasan tentang kebangsaan, kepemimpinan, dan tanggung jawab intelektual.
Meneguhkan Langkah di Gerbang Akademik
Seminar menghadirkan Bapak Alfianoor, S.Th.I., M.IP., Penelaah Teknis Kebijakan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Kalimantan Selatan. Selain itu, hadir pula Ust. Awad, M.A., Ketua STIT Darul Hijrah Martapura.
Keduanya menyampaikan perspektif yang saling melengkapi. Oleh karena itu, mahasiswa memperoleh bekal untuk memahami hubungan antara ilmu, kehidupan berbangsa, dan tanggung jawab sebagai insan akademik.
Politik sebagai Jalan Kesadaran Berbangsa
Pada sesi pertama, Bapak Alfianoor membawakan materi “Mahasiswa, Politik, dan Masa Depan Bangsa: Membangun Kesadaran Berbangsa.” Beliau mengajak mahasiswa melihat politik secara lebih utuh. Menurutnya, politik bukan sekadar perebutan kekuasaan. Sebaliknya, politik merupakan aturan kehidupan bersama yang memengaruhi pendidikan, ekonomi, dan masa depan generasi muda.
Selanjutnya, beliau menjelaskan bahwa mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai moral force. Peran itu menuntut keberanian menjaga etika, berpikir kritis, dan menyampaikan aspirasi masyarakat secara bertanggung jawab.
Beliau juga memaparkan bahwa perubahan kebijakan memerlukan proses yang bertahap. Pertama, mahasiswa perlu melakukan kajian ilmiah. Kemudian, mereka harus mengedukasi publik. Setelah itu, tersedia jalur hukum melalui judicial review. Pada akhirnya, aksi kolektif dapat menjadi sarana mendorong perubahan yang bermartabat.
Dari Ruang Publik Menuju Agensi Intelektual
Sesi kedua menghadirkan Ust. Awad, M.A. dengan tema “Agensi Intelektual Muslim: Rekonstruksi Paradigma Berislam dan Bernegara.” Beliau membuka materi dengan mengutip teori ruang publik (public sphere) dari Jürgen Habermas. Menurut konsep tersebut, masyarakat memerlukan ruang dialog yang rasional dan bebas agar mampu membangun keputusan bersama tanpa dominasi kekuasaan.
Lebih lanjut, beliau menggunakan metafora kereta api untuk menggambarkan hubungan antara struktur dan agensi. Struktur memang menyediakan rel dan arah perjalanan. Namun, manusia tetap memiliki kemampuan untuk membaca situasi dan mengubah arah ketika diperlukan. Gagasan ini berangkat dari teori strukturasi Anthony Giddens tentang capacity to act otherwise.
Membaca Paradoks, Membangun Perubahan
Dalam pemaparannya, Ust. Awad mengajak peserta melihat berbagai paradoks dalam kehidupan bernegara dan praktik keberislaman. Menurut beliau, persoalan terbesar bukan terletak pada adanya paradoks itu sendiri. Sebaliknya, masalah muncul ketika paradoks terus diulang hingga dianggap sebagai sesuatu yang normal.
Beliau menegaskan bahwa intelektual tidak cukup menjadi pengamat. Sebaliknya, mereka harus mampu menghadirkan alternatif yang memperbaiki struktur yang tidak adil. Dengan demikian, ilmu pengetahuan dapat menjadi kekuatan yang benar-benar mengubah kehidupan masyarakat.
Rekonstruksi Etik untuk Masa Depan Bersama
Pada bagian penutup, beliau menawarkan tiga fondasi rekonstruksi etik. Pertama, kemaslahatan transformatif. Kedua, rasionalitas komunikatif. Ketiga, keadilan dan persamaan martabat manusia. Ketiga prinsip tersebut menjadi pijakan agar agama, negara, dan ilmu pengetahuan bersama-sama mengembangkan potensi manusia.
Beliau juga mengingatkan bahwa setiap keputusan publik harus dapat dipertanggungjawabkan melalui dialog yang setara. Dengan begitu, mahasiswa tidak hanya menjadi pencari ilmu, tetapi juga pembangun peradaban.
Menutup Orientasi PBAK, Membuka Jalan Pengabdian
Setelah seluruh sesi selesai, kegiatan ditutup dengan foto bersama antara narasumber, mahasiswa baru, dan sivitas akademika STIT Darul Hijrah Martapura. Momen tersebut menjadi simbol berakhirnya PBAK 2026 sekaligus awal perjalanan baru sebagai keluarga besar kampus.
Kini, mahasiswa baru memasuki fase yang lebih menantang. Mereka diharapkan mampu menjaga semangat belajar, memperkuat akhlak, dan menumbuhkan keberanian berpikir kritis. Selain itu, mereka diharapkan menghadirkan manfaat bagi agama, bangsa, dan masyarakat.
Semoga Allah SWT melimpahkan keberkahan dalam setiap langkah mereka. Semoga perjalanan akademik ini melahirkan generasi intelektual Muslim yang berilmu, berintegritas, dan istiqamah mengabdi untuk umat serta negeri.








