Dari Layar AI ke Lisan Arab: Hidupkan Keberanian Berbahasa di MTs Hidayatullah

Kolaborasi Kampus dan Madrasah untuk Membangun Keberanian Berbahasa

Bahasa Arab tidak lagi hanya dipelajari melalui buku. Selama dua hari, Jumat hingga Sabtu, 18-19 September 2026, dosen dan mahasiswa STIT Darul Hijrah Martapura menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di MTs Hidayatullah Martapura dengan pendekatan inovatif yang memadukan praktik berbicara dan kecerdasan buatan (AI).

Kegiatan yang berlangsung pukul 07.30 hingga 16.30 WITA ini diikuti oleh 30 siswa. Tujuan utamanya ialah menumbuhkan keberanian peserta menggunakan bahasa Arab dalam komunikasi sehari-hari dengan menjadikan AI sebagai media pendukung belajar, bukan sebagai pengganti kemampuan berbahasa.

Pembukaan yang Menguatkan Semangat Belajar

Kepala MTs Hidayatullah Martapura, Hj. Rahmina, M.Pd., membuka kegiatan secara resmi. Turut hadir guru bahasa Arab, Hj. Siti Rahmah, S.Pd.I. dan Hj. Sabah, S.Pd.I., yang memberikan dukungan terhadap pelaksanaan program kolaboratif tersebut.

Suasana pembukaan menjadi awal dari komitmen bersama untuk menghadirkan pembelajaran bahasa Arab yang lebih aktif, menyenangkan, dan relevan dengan perkembangan teknologi.

Tim Pengabdian Menggerakkan Inovasi Pembelajaran

Program ini dipimpin oleh Ust. Akhmat Sodikin, M.Pd. sebagai ketua tim pelaksana. Pada hari pertama, materi disampaikan oleh Ust. Sukkan Arya Putra, M.Pd., sedangkan koordinasi hari kedua dipimpin oleh Mursyidatul Awaliyah.

Kesuksesan kegiatan juga ditopang oleh sembilan mahasiswa STIT Darul Hijrah Martapura, yakni Muhammad Nuh, Muhammad Herman Yusdianto, Muhammad Ilham Farid Husain, Jumiati, Reni Septyani Mangampa, Abdul Hamid, Muhammad Setiawan, Muhammad Khairul Dzaky, dan Siti Hamidah. Mereka berperan sebagai fasilitator yang mendampingi peserta selama seluruh rangkaian kegiatan.

Arabic Only Area Berbasis AI Hadir dengan Lima Prinsip Utama

Tema besar kegiatan ini adalah Arabic Only Area berbasis AI atau Al-Bī’ah al-Lughawiyyah al-‘Arabiyyah bi Da’m adz-Dzakā’ al-Ishthinā’ī. Pendekatan tersebut dibangun di atas lima prinsip utama yang dirancang untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif.

Prinsip pertama adalah Arabic Only, yaitu mendorong peserta menggunakan bahasa Arab selama sesi utama. Prinsip kedua menghadirkan AI as Language Support, sehingga AI dimanfaatkan ketika peserta belum mengetahui kosakata atau kalimat yang ingin diucapkan. Selanjutnya, pembelajaran lebih menekankan praktik daripada teori melalui pendekatan Practice-Oriented.

Selain itu, berbagai aktivitas dikemas dalam permainan melalui konsep Game-Based. Terakhir, prinsip Safe to Make Mistakes membangun suasana belajar yang aman karena keberanian mencoba lebih dihargai daripada ketakutan melakukan kesalahan.

Hari Pertama Menumbuhkan Keberanian Berbicara

Hari pertama dimulai dengan pre-test untuk memetakan kemampuan awal peserta. Setelah itu, siswa mengikuti orientasi penggunaan bahasa Arab serta pengenalan kosakata harian melalui sesi Kalimat Sabah.

Berikutnya, peserta memasuki Workshop AI Bahasa Arab. Mereka belajar mencari kosakata, menyusun kalimat sederhana, meminta penyederhanaan hasil AI, hingga memeriksa kembali keluaran teknologi sebelum digunakan.

Memasuki sesi praktik, kegiatan berlanjut dengan Ta’aruf bi al-‘Arabiyyah dan permainan Find Someone Who. Melalui aktivitas tersebut, siswa berlatih bertanya dan menjawab menggunakan bahasa Arab secara langsung bersama teman-temannya.

Praktik Interaktif Membuat Bahasa Arab Lebih Hidup

Setelah waktu istirahat, pembelajaran semakin dinamis melalui Murāja’ah Mufradāt, Isma’ wa Af’al, serta Muhādatsah dan Role Play. Berbagai simulasi dilakukan dengan tema situasi kelas, meminta izin, meminjam barang, hingga percakapan sehari-hari.

Sementara itu, sesi AI Expression Hunt mengajak peserta menemukan ungkapan baru melalui AI, kemudian langsung mempraktikkannya. Hari pertama ditutup dengan refleksi dan pengisian AI Language Log sebagai catatan perkembangan belajar setiap peserta.

Hari Kedua Menghadirkan Bahasa Arab dalam Situasi Nyata

Memasuki hari kedua, peserta disambut melalui kegiatan Arabic Morning yang membuat interaksi berbahasa Arab dimulai sejak mereka tiba di lokasi. Materi kemudian berkembang ke kosakata aktivitas, transaksi, opini, serta penyusunan kalimat menggunakan pola seperti urīdu, ahtāju, abhatsu, dan ‘indī.

Selain itu, peserta mengikuti Information Gap, yaitu aktivitas berpasangan yang mengharuskan mereka saling bertanya dalam bahasa Arab untuk melengkapi informasi yang berbeda.

Language Stations Menguji Kemampuan Peserta

Pada sesi berikutnya, siswa bergiliran mengunjungi Language Stations yang terdiri atas pos listening, speaking, vocabulary, situation, dan AI. Di setiap pos, mereka menghadapi tantangan yang berbeda sehingga pengalaman belajar menjadi lebih variatif.

Fasilitator juga memberikan sesi Koreksi Hasil AI. Melalui pembahasan tersebut, peserta diajak memahami bahwa keluaran AI harus tetap dibaca, disederhanakan, dan diperiksa sebelum digunakan dalam komunikasi nyata.

Drama Bahasa Arab Menjadi Puncak Antusiasme

Suasana semakin meriah ketika peserta mengikuti Market/Canteen Simulation, Arabic Treasure Hunt, dan AI-to-Speech Challenge. Dalam tantangan terakhir, siswa mencari ungkapan melalui AI, menutup ponsel, lalu mengucapkannya kembali tanpa bantuan teknologi.

Puncak kegiatan hadir melalui Arabic Mini Drama. Setiap kelompok menampilkan drama berbahasa Arab sesuai tema yang diberikan. Penampilan terbaik kemudian dinobatkan sebagai pemenang dan memperoleh hadiah sebagai bentuk apresiasi.

Evaluasi Menegaskan Hasil Pembelajaran

Sebagai penutup, peserta mengikuti post-test dan tes kalam tanpa bantuan AI untuk mengukur kemampuan yang benar-benar telah dikuasai. Setelah itu, mereka mengisi angket singkat serta refleksi sebagai bahan evaluasi program.

Kegiatan resmi ditutup oleh Hj. Rahmina, M.Pd. sekaligus penyerahan hadiah kepada kelompok terbaik. Pada kesempatan tersebut, tim PkM STIT Darul Hijrah Martapura juga menyerahkan kenang-kenangan kepada pihak sekolah sebagai simbol penguatan kemitraan antara perguruan tinggi dan madrasah.

Menanamkan Keberanian, Mengarahkan Teknologi

Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat ini, STIT Darul Hijrah Martapura berharap siswa MTs Hidayatullah Martapura semakin percaya diri menggunakan bahasa Arab dalam kehidupan sehari-hari. Teknologi AI diharapkan menjadi sahabat belajar yang memperluas kesempatan berlatih, sekaligus menegaskan bahwa kemampuan berbicara tetap tumbuh melalui keberanian, praktik, dan interaksi nyata.

Scroll to Top